Ads Top

Cengkeraman Kartel Narkotika di Sepak Bola Kolombia


Nationalgeographic.co.id - Stigma negatif melekat ke sepak bola Kolombia sekian lama. Menyebut sepak bola Kolombia, hal teringat pasti tragedi pembunuhan defender Andres Escobar pada 1994 yang diyakini terkait sepak bola.

Label miring yang melekat ke sepak bola Kolombia memang beralasan. Sepak bola di sana erat kaitannya dengan darah dan kekerasan karena cengkeraman kartel narkotika.

Kasus Escobar bukan satu-satunya tragedi berdarah di sepak bola Kolombia. Daftar kekerasan terkait sepak bola di sana begitu panjang. Pada 1986, delapan perangkat pertandingan tewas. Pada 1988, Sekretaris Liga Sepak bola Metropolitan dibunuh. Sementara itu, wasit Alvaro Ortega kehilangan nyawanya sesudah memimpin pertandingan kontroversial antara America dan Indelendiente Medellin. Kartel narkotika terjun ke sepak bola karena daya tariknya yang begitu besar di Kolombia. Karena sangat populer, sepak bola memberi banyak hal yang menguntungkan.

Pertama adalah alasan ekonomi. Kartel narkotika mencuci uang lewat sepak bola dengan menyuntikkan dana untuk membeli klub. Bukan hanya itu, mereka juga bisa mengatur hasil pertandingan lewat kedekatan dengan pemain dan klub. Tentu saja ujung-ujungnya adalah keuntungan finansial yang diperoleh dari industri judi.

Akan tetapi, bukan hanya keuntungan ekonomi yang diperoleh kartel narkotika karena menguasai sepak bola. Hadir di sepak bola membuat kartel narkotika mendapat popularitas. Hal itu mereka mamfaatkan untuk mencari massa hingga membentuk opini. Tak ayal, bagi sebagian rakyat Kolombia, kartel narkotika tidak dianggap sebagai organisasi kriminal, melainkan pembela rakyat kecil.

Bukti nyata terlihat dalam pemakamam bos kartel narkotika terkenal, Pablo Escobar. Rakyat Kolombia menyemut mengantar Escobar ke liang lahat. Saat itu, peti matinya diselumuti bendera klub sepak bola, Atletico Nacional.

"Sepak bola di negeri ini merupakan bisnis kotor. Hal itu merefleksikan budaya di sini sepenuhnya. Sepak bola dimiliki kartel, dijalankan oleh kartel, dan sekarang dimainkan oleh anggota kartel," kata salah seorang pemain yang tidak mau disebutkan namanya dalam sebuah riset yang dilakukan oleh Universitas California Berkeley.

Mulai Bangkit

Ketika kartel narkotika mendapat untung, sepak bola Kolombia dirugikan. Potensi mereka tidak dikeluarkan maksimal karena kepentingan politis kartel narkotika, Alhasil, sekian lama sepak bola Kolombia tenggelam.

Akan tetapi, pascakematian P. Escobar, situasi mulai membaik. Kartel narkotika mulai goyah meski tidak sepenuhnya hilang. Hal ini dimanfaatkan sebaik mungkin oleh pelaku sepak bola Kolombia. Sedikit demi sedikit mereka melepaskan diri dari cemgkeraman kartel narkotika.

Cara yang dilakukan ialah dengan mengirim para pemain ke luar negeri. Selain ke Eropa, cukup banyak pemain Kolombia yang bermain di Argentina maupun Brasil.

Hal ini berdampak positif. Kini, sepak bola Kolombia mulai bangkit. Meski belum meraih prestasi, setidaknya tim nasionalnya diperkuat para pemain tenar seperti Radamel Falcao, James Rodriguez, Juan Cuadrado, hingga Jackson Martinez. Para pemain ini di atas kertas memiliki kemampuan untuk mengangkat sepak bola Kolombia.

"Para pemain ini adalah para bintang. Keberadaan mereka bisa dipertahankan. Tim ini tidak tumbuh dengan uang narkotika. Mereka juga tidak bermain di liga yang klub-klubnya dimiliki bos-bos narkotika," ujar penulis Kolombia, Juan Gabriel Vasquez.

(Asis Budhi Pramono, wartawan)

No comments:

Powered by Blogger.