Mending Pimpinan Islam Korup daripada Kafir tidak Korup?
Entah kenapa masih ada orang yang lebih memilih pemimpin berdasarkan agama, tanpa memperhatikan kejujuran dan kerja kerasnya. Sudah jelas bahwa agama tidak menjamin seseorang bisa bekerja dengan jujur.
Pendapat kontroversial
Berikut ini adalah kutipan kontroversial dari Profesor Jaih Mubarok yang dikutip dari link ini:
Pak Ahok sebagai contoh pemimpin non-muslim yang jujur
Terlihat sangat jelas bahwa Pak Ahok (Basuki Tjahaja Purnama) yang bukan beragama mayoritas, mampu bekerja keras dengan baik dan memberantas kemiskinan tanpa kompromi.
Kita semua sudah melihat hal2 positif di bawah ini dari Pak Ahok selama ini, walaupun ada kalangan yang menghina dia dari sudut pandang SARA.
Sangat disayangkan masih ada tokoh agama yang menyuarakan seperti itu. Padahal organisasi seperti NU dan Muhammadiyah sudah sering menyuarakan dukungan pada pemimpin yang berprestasi.
Kesimpulan
Indonesia membutuhkan pemimpin yang jujur terlepas apapun agamanya. Koruptor hanya akan mencuri dan merugikan keseluruhan bangsa ini tanpa mempedulikan apakah Indonesia mau maju atau tidak.
Yang dipikirkan koruptor hanyalah kenikmatan dirinya sendiri. Apapun alasannya koruptor tidak dibenarkan oleh hukum dan agama manapun! (sumber: letterview.com)
Pendapat kontroversial
Berikut ini adalah kutipan kontroversial dari Profesor Jaih Mubarok yang dikutip dari link ini:
Ternyata pimpinan MUI ini dengan sederhana memberikan jawaban yang mengejutkan: "Daripada memilih calon non muslim, pilih calon muslim yang korup.” Jaih beralasan memilih pemimpin Islam itu akidah, sementara korupsi itu akhlak yang kemudian bisa diperbaiki. "Agama adalah persoalan akidah dan korupsi adalah persoalan akhlak. Mana yang bisa diperbaiki atau diubah? Akhlak yang bisa diubah dan diperbaiki,” tegas dia.Profesor Jaih Mubarok merupakan Guru Besar Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung. Dia setidaknya sudah menulis enam buku tentang Islam: Metodologi Studi Islam (2000), Sejarah dan Perkembangan Hukum Islam (2000), Modifikasi Hukum Islam (2002), Kaidah Fiqh: Sejarah dan Kaidah Asasi (2002), Metodologi Ijtihad Hukum Islam (2002), dan Fiqh Kontemporer: Wacana Halal Haram dalam Bidang Peternakan ( 2003).
Pak Ahok sebagai contoh pemimpin non-muslim yang jujur
Terlihat sangat jelas bahwa Pak Ahok (Basuki Tjahaja Purnama) yang bukan beragama mayoritas, mampu bekerja keras dengan baik dan memberantas kemiskinan tanpa kompromi.
Kita semua sudah melihat hal2 positif di bawah ini dari Pak Ahok selama ini, walaupun ada kalangan yang menghina dia dari sudut pandang SARA.
- Kerja keras (Bangun pagi dan bekerja keras sampai malam)
- Ketegasan (Berani memecat bawahan yang tidak perform atau korup)
- Nasionalisme (Walaupun etnis Tionghoa), dan
- Kejujuran (Walau harus bertengkar dengan phak2 yang korup)
Sangat disayangkan masih ada tokoh agama yang menyuarakan seperti itu. Padahal organisasi seperti NU dan Muhammadiyah sudah sering menyuarakan dukungan pada pemimpin yang berprestasi.
Kesimpulan
Indonesia membutuhkan pemimpin yang jujur terlepas apapun agamanya. Koruptor hanya akan mencuri dan merugikan keseluruhan bangsa ini tanpa mempedulikan apakah Indonesia mau maju atau tidak.
Yang dipikirkan koruptor hanyalah kenikmatan dirinya sendiri. Apapun alasannya koruptor tidak dibenarkan oleh hukum dan agama manapun! (sumber: letterview.com)

No comments: