11 Mata Uang Yang Terkena Efek Parah Pelemahan Yuan
Keputusan Pemerintah Tiongkok mendevaluasi mata uangnya menggelinding cepat bak bola boling dan menghempaskan jejeran nilai tukar mata uang banyak negara lain. Negara yang terkena efek parah pelemahan yuan secara sengaja oleh Pemerintah China pada 11 Agustus 2015 lalu adalah negara-negara bekas Uni Soviet seperti Kazakhstan. Sebab, negara di Asia Tengah itu tak hanya kena efek devaluasi yuan, juga harus menghadapi pelemahan rubel Rusia. Tak ayal, depresiasi rubel juga menempatkan mereka dalam posisi yang tidak menguntungkan dalam perdagangan dengan Rusia.
Mata uang Tenge Kazhkhstan adalah yang paling parah terkena dampak dari devaluasi yuan. Tenge Kazakhstan sejatinya sudah tergerus dalam sejak awal tahun ini. Tapi, Kamis (20/8/2015) pekan lalu menjadi puncak pelemahan tenge Kazakhstan sepanjang tahun ini, setelah bertengger di posisi 252,4 tenge per dollar Amerika Serikat (AS). Itu berarti, tenge melemah 38,41 persen sejak awal 2015. Untunglah, Jumat (21/8/2015) lalu, tenge kembali sedikit menguat ke 234,99.
Gavin Serkin, penulis Frontier, saat di wawancara Bloomberg, menyatakan, ada 11 mata uang yang berpotensi mengalami pelemahan dalam seperti yang dialami tenge Kazhkhstan, mereka adalah:
1. Riyal Arab Saudi
Negara pengekspor minyak terbesar di dunia ini memang punya cadangan devisa yang masih besar, mencapai 672 miliar dollar AS. Arab Saudi juga memiliki kemampuan menahan pasar. Tapi, pelemahan harga minyak mentah dunia ke level terendah dalam tujuh tahun terakhir bakal membuat riyal semakin terpuruk.
2. Manat Turkmenistan
Bangsa yang juga pengekspor minyak ini mempunyai hubungan ekonomi yang dekat dengan Rusia. Pada Januari 2015, Turkmenistan telah mendevaluasi mata uangnya 19 persen. Bahkan, manat berpotensi melemah 20 persen dalam enam bulan ke depan.
3. Somoni Tajikistan
Negara Asia Tengah ini punya hubungan dagang yang dekat dengan Kazakhstan. Nilai ekspor Tajikistan sebanyak 11 persen di antaranya berasal dari Kazakhstan. Itu sebabnya, somoni Tajikistan berpotensi terdepresiasi 10 persen–20 persen.
4. Dram Armenia
Mata uang negara pecahan Uni Soviet ini sudah melemah 15 persen dalam 12 bulan. Dram terus melemah lantaran seperempat perdagangan Armenia menuju ke Rusia. Padahal, rubel telah melemah 46 persen dalam 12 bulan terakhir.
5. Som Kyrgyzstan
Hubungan antara Kyrgyzstan dan Kazakhstan juga dekat dalam perdagangan. Alhasil, som bakal terus tertekan.
6. Pound Mesir
Negeri Piramida ini memang membatasi akses investor terhadap mata uang asing sejak tahun 2011 lalu. Para pedagang mata uang pun memproyeksikan, pound Mesir akan melemah sekitar 22 persen dalam setahun ke depan.
7. Lira Turki
Nilai tukar lira terhadap dollar AS terus melemah sejak China mendevaluasi mata uangnya pada 11 Agustus 2015. Bahkan, Rabu (19/8/2015) pekan lalu, lira melemah 25,65 persen sejak awal tahun ke posisi 2,9254 per dollar AS. Ini adalah pelemahan lira paling dalam. Tapi, Jumat (21/8/2015), lira menguat di 2,3281 per dollar AS.
8. Naira Nigeria
Para pembuat kebijakan di negara pengekspor minyak ini memang menahan naira untuk menjaga perdagangan. Karena itu, ke depan mata uang negara Afrika tersebut bakal jatuh lebih dalam 20 persen terhadap dollar AS selama setahun.
9. Cedi Ghana
Negara Afrika yang juga eksportir minyak ini memiliki masalah fiskal, kenaikan inflasi, dan utang yang terus meningkat. Kondisi ini semakin memperlemah cedi.
10. Kwacha Zambia
Kwacha kena efek pelemahan yuan karena 70 persen ekspor tembaga Zambia ke China.
11. Ringgit Malaysia
Mata uang negeri jiran melemah ke level terendah dalam 17 tahun terakhir, Kamis (20/8/2015) pekan lalu. Akibatnya, cadangan devisa Malaysia merosot di bawah 100 miliar dollar AS untuk pertama kali sejak tahun 2010 lalu. (Hendra Gunawan-TribunBisnis)

No comments: